Kesehatan Lingkungan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting di dunia ini. Keberadaanya pun mutlak harus ada bagi kehidupan manusia, kehilangan air 15% dari berat badan pun dapat menyebabkan kematian. Air itu sendiri terdapat di seluruh alam sekitar 71% dari permukaan bumi tertutup oleh air. Air terdapat di alam dengan wujud dalam bentuk padat (es), cair, dan gas atau uap. Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas air dengan kaitannya dalam hal persediaan air bersih sangat berpengaruh bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia (Slamet, 1994).

Air juga merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di alam secara berlimpah-limpah. Namun, ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor.  Dalam suatu tabel distribusi air di bumi ditunjukkan bahwa lebih dari 97%  air di muka bumi ini merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh mansia secara langsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% diantaranya tersimpan sebagai gunung es di kutub dan uap air, yang juga tidak bisa digunakan secara langsung. Air yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0,62%, meliputi air yang terdapat di danau, sungai, dan air tanah. Jika ditinjau dari segi kualitas, air yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air  yang ada (Efendi, 2003).

Air tawar yang tersedia selalu mengalami siklus hidrologi. Pergantian total air sungai berlangsung sekitar 18-20 tahun, sedangkan pergantian uap air yang terdapat di atmosfer berlangsung sekitar 12 hari dan pergantian air tanah dalam membutuhkan waktu ratusan tahun (Miller, 1992).

Pencemaran air diakibatkan oleh masuknya bahan pencemar (polutan) yang dapat berupa gas, bahan-bahan pelarut dan partikulat. Pencemaran memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah idustri, pembuangan hasil aktivitas manusia, dan lain-lain. Polutan ini hampir 90% dapat digolongkan akibat perilaku manusia (Efendi, 2003).

Pencemaran air oleh berbagai faktor pencemar dapat menimbulkan berbagai dampak merugikan bagi kesehatan. Salah satunya dengan timbulnya berbagai macam penyakit, seperti alergi, disentri, diare, kolera, dan lain-lain. Hal ini dapat menimbulkan buruknya kualitas air (Ryadi, 1982).

Berdasarkan data kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2009 tentang air bersih. Di dalam data tersebut, OKI menduduki urutan ke empat terakhir se Provinsi Sumatera Selatan dalam cakupan penyediaan air bersihnya, yaitu 68,03% dan 30% darinya tersedia oleh sungai (//http://kesehatan-air/profil-OKI.provinsi-sumsel//) dan hampir 40% dari masyarakat Kota Kayuagung menjadikan sungai sebagai sarana penyediaan air bersih (Sumatera Ekspres, 10 September 2009). Penyediaan air bersih sangat penting bagi kehidupan kita karena air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Kekurangan air bersih dapat mengakibatkan berbagai macam dampak merugikan bagi manusia (Effendi, 2003).

Pentingnya penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan (kimia, bebas kuman, dan radiasi) bersama-sama dengan fasilitas sanitasi lingkungan sebagai usaha jangka panjang untuk frevensi diare, tidak dapat diabaikan (WHO, 1978). Diare merupakan salah satu penyakit utama yang banyak terdapat di Negara berkembang. Hal ini tercermin dalam laporan statistik rumah sakit-rumah sakit mengenai kesakitan dan kematian. Diare merupakan penyebab paling utama dirawatnya anak di bangsal anak dan jauh melebihi penyakit-penyakit lain (Sudiyanto, 1975).

Sebagai contoh, buruknya kualitas air di Kota Kayuagung saat ini terjadi akibat pergantian musim sehingga mengakibatkan turunnya volume air di dalam sungai sedangkan aktivitas sehari-hari masyarakat yang tinggal di sana yang dapat mencemari air relatif besar. Air sungai yang volumenya sudah berkurang ini tetap digunakan oleh hampir 40% dari masyarakat Kota Kayuagung dan kebanyakan dari mereka menggunakan air ini tanpa melalui pengolahan khusus terlebih dahulu. Hal ini dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah diare (Sumatera Ekspres, 10 September 2009).

Di Kota Kayuagung, wabah penyakit diare sudah menyerang 594 pasien untuk periode Juli sampai Agustus 2009. Dari jumlah tersebut, tercatat 247 penderita diare dengan tingkat kematian sebanyak 3 orang pada bulan Juli 2009, sedangkan pada bulan Agustus 2009 kuantitas pasien yang terjangkit diare sebanyak 347 orang. Akan tetapi, pada bulan Agustus 2009 tingkat kematian akibat diare hanya satu orang (Sumatera Ekspres, 10 September 2009).

  1. B. Rumusan Masalah

Dalam kehidupan pada masa sekarang, begitu banyak fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat era sekarang. Salah satu masalah yang sangat memprihatinkan adalah kurangnya penyediaan air bersih bagi kehidupan. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, sebagai contoh “Peningkatan jumlah penderita diare di kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus Tahun 2009” yang dapat dikatakan suatu masalah yang perlu diatasi sesegera mungkin.

Untuk dapat memberikan pemahaman akan pentingnya penyediaan air bersih kepada masyarakat pada umumnya dan pembaca khususnya, penulis mengambil judul “Peningkatan jumlah penderita diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009” agar dapat diindahkan dan memberi manfaat bagi pembaca.

  1. C. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui persentase cakupan penyediaan air bersih di Kota Kayuagung
  2. Untuk mengetahui penyebab utama diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009
  3. Untuk mengetahui sebab meningkatnya jumlah penderita diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009
  4. Untuk mengetahui upaya pemerintah dalam penanggulangan penyakit diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009
  5. D. Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Dapat memahami persentase cakupan penyediaan air bersih di Kota Kayuagung
  2. Dapat memahami penyebab utama diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009
  3. Dapat memahami sebab meningkatnya jumlah penderita diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009
  4. Dapat memahami upaya pemerintah dalam penanggulangan penyakit diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Air
  1. Pengertian Air

Air  adalah materi esensial  di dalam kehidupan yang merupakan salah satu dari ketiga komponen yang membentuk bumi (zat padat, air dan atmosfer). Secara kimia, air dapat didefinisikan sebagai zat cair yang terdiri dari hidrogen dan oksigen. Air juga dapat dikatakan materi yang kebutuhannya untuk kehidupan, tidak bisa ditunggu sampai besok apalagi sampai minggu depan. Oleh karena itu, air dapat dikatakan sebagai salah satu kebutuhan yang paling pokok karena air tidak dapat digantikan dengan benda lain (Suriawiria, 2005).

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (Permenkes no. 416 tahun 1990). Selain itu, Air bersih juga dapat dikatakan sebagai air yang sudah terpenuhi syarat fisik dan kimia. Namum, didalam air bersih belum terpenuhi syarat bakteriologi. Syarat fisik meliputi rasa, bau, sisa zat padat, dan derajat kekeruhan sedangkan syarat kimia meliputi pH, kandungan senyawa kimia dalam air, kandungan residu atau sisa, misalnya residu pestisida, deterjen (kandungan senyawa toksik atau racun) dan sebagainya. Air bersih juga merupakan air yang layak untuk digunakan untuk kebutuhan apapun. Namun, air bersih belum dapat dikatakan sebagai air yang siap minum (Suriawiria, 2005).

Air bersih merupakan suatu alat pemenuhan kebutuhan yang sangat berguna dalam kehidupan. Menurut kegunaannya, air dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu air yang digunakan untuk air minum secara langsung (tanpa harus diolah terlebih dahulu), air baku untuk diolah sebagai air minum dan kebutuhan rumah tangga, air untuk keperluan perikanan dan peternakan, dan air untuk keperluan pertanian sekaligus usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik. Dari keempat kegunaan air tersebut, yang dapat disebut dengan kebutuhan air bersih adalah air baku untuk diolah sebagai air minum dan keperluan rumah tangga (Gabriel, 2000).

  1. 2. Sumber – Sumber Air

Secara garis besar dapat dikatakan air bersumber dari :

  1. Laut yang disebut air laut
  2. Darat yang disebut air tanah
  3. Udara yang disebut air hujan

Dari ketiga sumber air diatas, yang dapat menjadi sarana air bersih yang biasa digunakan oleh masyarakat pada umumnya untuk kehidupan sehari-hari adalah air tanah dan air hujan karena untuk menggunakan air laut harus melalui proses desalinasi terlebih dahulu dan biaya proses desalinasi masih sangat mahal.

Air tanah disebut juga air tawar karena tidak terasa asin. Berdasarkan lokasinya, air tanah dapat dibedakan menjadi air permukaan tanah dan air jauh dari permukaan tanah. Air permukaan tanah adalah air yang dapat kita temukan tanpa harus melakukan penggalian terlebih dahulu, seperti sungai, rawa-rawa, danau,dll. Kesemuanya ini tergantung kepada curah hujan. Air jauh dari permukaan tanah merupakan air yang tersimpan di dalam lapisan tanah, seperti air sumur gali dan air sumur bor (Gabriel, 2000).

  1. Persyaratan Air
  1. a. Kuantitas

Syarat kuantitas air menyangkut jumlah air yang dibutuhkan manusia dalam kegiatan tertentu dan terkait juga dengan jumlah ataupun volume air yang tersedia oleh sarana penyediaan air. Selain itu, jumlah dari segi kuantitas air ini adalah volume air yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, yaitu 2500 ml (8 gelas) per hari (http://uripsantoso.wordpress.com//).

  1. b. Kualitas

Kualitas Air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif (Permenkes no. 416 tahun 1990). Air dapat dikatakan bersih jika memiliki kualitas air bersih yang sudah memenuhi syarat fisik dan syarat kimia.

1) Fisik

Pada dasarnya, air di dunia ini didapatkan dalam tiga wujud, yaitu bentuk padat sebagai es, bentuk cair sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Akan tetapi, yang dapat kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari adalah bentuk cair sebagai air. Dalam hal ini air harus bebas dari pencemaran dalam arti memenuhi kualitas fisik dari air, yaitu kekeruhan, warna, rasa dan bau, serta suhu (Gabriel, 2000).

a) Kekeruhan

Adanya benda-benda lain yang tercampur atau terlarut di dalam air, seperti tanah liat, lumpur, benda-benda organik yang halus, plankton, dll. Pada dasarnya, kekeruhan tidak mempunyai efek langsung terhadap kesehatan tetapi air yang keruh harus di olah terlebih dahulu agar dapat digunakan sesuai dengan fungsi air pada umumnya.

b) Warna

Warna dari air umumnya disebabkan oleh ekstrak zat warna dari humus yang berasal dari hutan atau tanaman rawa dan tanaman-tanaman lain. Zat warna yang timbul ini menyebabkan warna coklat kekuning-kuningan seperti teh pada permukaan air.

Warna dari air tersebut memiliki 2 tipe, yaitu :

  1. True colour, yaitu warna yang ada di dalam air setelah bahan yang larut diambil.
  2. Apparent colour, yaitu true colour ditambah bahan lain yang dihasilakan oleh suatu benda dalam bentuk suspensi.

Dalam hal tertentu warna yang terjadi di dalam air dapat pula disebabkan oleh zat besi, air buangan industri atau mikroorganisme.

c) Rasa dan Bau

Rasa dan bau pada air dapat disebabkan oleh benda-benda asing, seperti bahan-bahan organik, garam-garam anorganik atau gas yang larut dalam air. Bahan-bahan tersebut dapat berasal dari rumah tangga, pertanian, dan sumber-sumber alamiah.

d) Suhu

Sebenarnya untuk skala air bersih, suhu tidak terlalu berpengaruh dan tidak terlalu menimbulkan akibat yang berbahaya bagi manusia. Air bersih sebaiknya memiliki suhu yang sejuk tidak mempunyai beda suhu yang banyak dengan suhu udara luar. Pada umumnya air tanah dan air permukaan memiliki kriteria ini (Sanropie, dkk., 1983).

2) Kimia

Kualitas air secara kimia meliputi nilai pH, kandungan senyawa kimia di dalam air, kandungan residu atau sisa, kandungan senyawa toksik atau racun, dan sebagainya. Pada pengaturan nilai pH diperkenankan sampai batas yang tidak merugikan karena efeknya terhadap rasa, korosivitas, dan efisiensi klorinasi.

Air baru dapat dikatakan bersih jika sudah terbebas dari bahan-bahan kimia, seperti Hg (air raksa), Pb (timbal), serta limbah-limbah yang mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia (Suriawiria, 2005).

3) Mikrobiologi

Syarat mikrobiologi adalah bersihnya kandungan dari mikroorganisme di dalam air, baik berupa bakteri ataupun berbagai mikroba lain yang dapat menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan manusia. Salah satunya adalah timbulnya berbagai macam penyakit di dalam tubuh manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/mikrobiologi//).

4) Radioaktif

Radioaktif berhubungan dengan pancaran partikel-partikel dari sebuah inti atom. Syarat air ini dimaksudkan adalah air yang terbebas dari jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi radionuklida pada konsentrasi atau aktivitas yang melebihi batas yang diinginkan yang ditetapkan oleh badan pengawas tenaga nuklir (http://id.wikipedia.org/wiki/radioaktif//).

  1. Penyehatan Air

Secara umum penyehatan air dapat pengelolaan air baku atau air alami dapat dilakukan dengan beberapa cara, sebagai berikut:

  1. a. Cara sederhana

Cara sederhana ini dilakukan dengan cara penampungan. Penampungan yang dimaksudkan agar bahan-bahan yang menyebabkan air tersebut keruh, misalnya oleh lumpur dan sebagainya,akan terendapkan terlebih dahulu di dalam bak tersebut. Dengan begitu, air yang akan dialirkan atau digunakan, sudah jernih karena lumpurnya sudah mengendap. Tentu saja bak penampungan ini tidak akan dibiarkan begitu untuk waktu yang lama karena cepat atau lambat endapannya akan banyak serta kemungkinan akan menyumbat saluran atau akan terbawa air lagi. Oleh karena itu, dalam waktu tertentu endapannya harus dibuang atau dikeluarkan.

Cara pembersihan air dengan sistem bak penampungan ini sangat baik dilakukan untuk air baku yang berasal dari sumber mata air atau dari sungai yang langsung dari hutan atau pegunungan yang masih kelihatan jernih. Jika berasal dari danau apalagi dari sungai yang keruh, sulit untuk dilakukan cara penampungan ini. Oleh karena bahan-bahan yang terlarut di dalam air yang besar kemungkinan cukup tinggi sehingga airnya kelihatan keruh. Hal ini merupakan kendala yang sulit diatasi dan diperlukan cara lain atau cara yang lebih efektif untuk pembersihannya.

  1. b. Cara penyaringan pasir

Cara ini dilakukan dengan menggunakan dua jenis pasir, ijuk dan batu gamping. Untuk membuat alat penyaringan ini, harus disiapkan empat buah bak yang masing-,masing memiliki manfaat yang berbeda. Bak pertama diisi dengan ijuk pada permukaan dan pasir kasar di bawahnya. Pada bak kedua juga ditambahkan ijuk pada permukaan tetapi ditambahkan pasir halus di bagian dalam bak. Selain itu, pada bak ketiga diletakkan batu gamping dan bak terakhir dibiarkan kosong untuk penampungan air bersih.

Di dalam penggunaan bak saringan, yang paling penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut:

1)   Menjamin agar pasir yang digunakan cukup halus dan mempunyai diameter efektif antara 0,15 – 0,35 mm

2)   Menjaga agar kecepatan penyaringan tidak melebihi kreteria yang telah ditetapkan, yaitu antara 0,2 – 0,5 m³/m²/jam

3)   Menjaga agar air baku yang masuk ke dalam saringan tidak terlalu keruh, tidak melebihi 50 mg/l sebagai SiO2.

Ketiga hal tersebut dimaksudkan agar penetrasi kotoran ke dalam lapisan pasir tidak mencapai bagian yang lebih dalam dari 5 cm dari permukaan dan agar saringan pasir tidak lekas mampat akibat akumulasi bahan-bahan yang dipisahkannya.

  1. c. Cara koagulasi

Kekeruhan air ada yang tidak dapat dihilangkan dengan kedua cara diatas. Hal ini disebabkan oleh partikel-partikel koloid yang hanya dapat diendapkan dengan proses koagulasi kimiawi. Koagulasi kimiawi dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia. Bahan kimia yang umum digunakan adalah Aluminium Sulfat (Al2(SO4)3. 18 H2O) yang juga dikenal dengan nama tawas. Bahan ini paling banyak digunakan karena relatif murah dan mudah diperoleh dipasaran.

Pengolahan air dengan tawas untuk keperluan rumah tangga secara individu dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu :

1)   Sediakan dua buah drum (drum plastik atau gentong tanah) dengan volume masing-masing 200/l. Drum pertama diisi dengan air baku yang akan diolah, kemudian biarkan mengendap selama 1,5–3 jam. Air yang sudah diendapkan tersebut kemudian dipindahkan ke drum yang ke dua.

2)   Larutkan tawas sejumlah yang diperlukan dalam 1–2 liter air (kalau perlu dipanaskan). Apabila dosis tawas diperlukan 60 mg/liter, 200 liter air yang diolah perlu dilarutkan sebanyak 12 gr tawas (kurang lebih ½ sendok makan). Tawas tersebut kemudian dimasukkan dalam drum ke dua dan diaduk hingga merata selama 3–5 menit sehingga terlihat pembentukan-pembenukan flok yang agak besar. Biarkan flok tersebut mengendap ke dasar drum selama 3-5 jam. Apabila dalam waktu tersebut masih terdapat flok yang belum mengendap, biarkan mengendap dalam waktu yang lebih lama agar pengendapan menjadi lebih sempurna (Suriawiria, 2005).

Selain itu, untuk pengolahan air yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit tidak dapat digunakan cara di atas. Akan tetapi dapat dengan penggunaan bahan kimia berupa kaporit.

  1. 5. Pengawasan Air

Pengawasan kualitas air bertujuan untuk mencegah penurunan kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan, serta meningkatkan kualitas air (Permenkes no. 416 tahun 1990). Untuk mendapatkan air bersih yang sehat, cukup dan terus menerus, maka sarana penyediaan air bersih dan juga air bersih itu sendiri perlu diadakan pengawasan dan pemeliharaan. Pengawasan dalam arti agar air bersih yang dihasilkan kualitas maupun kuantitasnya terjamin (Effendi, 2003).

Menurut Permenkes no. 416 tahun 1990, kegiatan pengawasan kualitas air mencakup :

  1. Pengamatana lapangan dan pengambilan contoh air
  2. Pemeriksaan contoh air
  3. Analisis hasil pemeriksaan
  4. Perumusan saran dan cara pemecahan masalah yang timbul dalam hasil kegiatan
  5. Kegiatan tindak lanjut berupa pemantauan upaya penanggulangan/perbaikan termasuk kegiatan penyuluhan
  1. Pemeliharaan Sarana Air Bersih

Pemeliharaan yang dimaksud disini adalah agar sarana air bersih selalu dalam kondisi yang baik dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan diadakan pengawasan dan pemeliharaan sarana air bersih diharapkan konsumen atau masyarakat yang memakainya tidak merasa dirugikan, justru sebaliknya masyarakat akan ikut berpartisipasi menjaganya.

Sarana penyediaan air bersih harus bebas dari bahaya pencemaran dan pengrusakan dan Dinas Kesehatan berhak menyelenggarakan pengawasan kualitas air bersih dengan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap contoh air secara berlaku.

Sarana air bersih akan cepat rusak atau tidak bisa dipakai lagi kalau sarana tersebut tidak dipelihara dengan baik. Pemeliharaan yang baik apabila dilakukan secara berkala tersebut tergantung dari macam sarananya.

  1. a. Pemeliharaan penampungan air hujan

Pemeliharaan bak dengan baik, bersihkan lingkungan sekitar bak, dan jaga agar air di dalam bak selalu dalam keadaan bersih. Atur penggunaan air, perhitungkan supaya diakhir musim hujan bak dalam keadaan terisi penuh sehingga benar-benar berfungsi sebagai penyelamat di musim kering, bak jangan sampai kering sekali, paling tidak sisakan air setinggi 10 cm untuk menjaga kelembaban dan dinding bak.

  1. b. Pemeliharaan sumur dan sumber air lainnya

Pemeliharaan sumur dilakukan dengan menyikat dinding sumur dengan terlebih dahulu dicelupkan dalam larutan khlor (kaporit). Langkah-langkah yang harus dikerjakan:

1)    Buatlah larutan khlor sebanyak 20 liter dengan kadar khlor aktif 50 PPm

2)   Pergunakanlah sikat bertangkai panjang untuk menyikat dinding sumur yang terlebih dahulu dicelupkan dalam larutan khlor yang telah dibuat

3)   Tuangkan sisa larutan ke dalam sumur dan aduklah air sumur dengan timba, agar larutan khlor merata

4)   Biarkanlah selama paling sidikit 30 menit sampai satu malam

Sumber air lainnya seperti air sungai ataupun mata air yang dalam pemeliharaannya perlu dijaga kebersihannya sebab jika telah terjadi pecemaran di lingkungan air tersebut seperti membuang sampah, feces atau berbagai jenis limbah lainnya, maka akan berpeluang mengontaminasi air dan segala komponennya yang akan berdampak buruk bagi manusia dimana air tersebut digunakan sebagian besar masyarakat untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan sebagainya (Sanropie, dkk., 1983).

  1. Hubungan Air dengan Kesehatan

Hubungan air dengan kesehatan erat kaitannya dengan cakupan penyediaan air bersih yang ada disuatu wilayah, seperti yang terjadi di Kota Kayuagung pada tahun 2009. Berdasarkan data kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2009 tentang air bersih. Di dalam data tersebut, OKI menduduki urutan ke empat terakhir se-Provinsi Sumatera Selatan dalam cakupan penyediaan air bersihnya, yaitu 68,03% dan 30% darinya tersedia oleh sungai (//http://kesehatan-air/profil-OKI.provinsi-sumsel//) dan hampir 40% dari masyarakat Kota Kayuagung menjadikan sungai sebagai sarana penyediaan air bersih (Sumatera Ekspres, 10 September 2009).

Secara khusus, pengaruh air terhadap kesehatan dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan air yang merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan kita.

  1. a. Pengaruh tidak langsung

Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh yang timbul sebagai akibat penyalahgunaan air yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan kesejahteraan masyarakat, dalam hal kesehatan khususnya. Sebagai contoh pengotoran air dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat karena dari pengotoran badan-badan air dengan zat-zat kimia yang dapat menurunkan kadar oksigen terlarut, zat-zat kimia tidak beracun sukar diuraikan secara alamiah dan menyebabkan masalah khusus seperti estetika, kekeruhan karena adanya zat-zat tersuspensi.

Hal di atas juga dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi manusia, salah satunya diare. Pengaruh ini dapat terjadi melalui perantara, seperti makanan, alat-alat yang digunakan untuk makan, dll.

  1. b. Pengaruh langsung

Pengaruh langsung terhadap kesehatan tergantung sekali pada kualitas air, dan terjadi karena air berfungsi sebagai penyalur ataupun penyebar penyebab penyakit ataupun sebagai sarang insekta penyebar penyakit. Kualitas air berubah karena kapasitas air untuk membersihkan dirinya telah dilampui. Hal ini disebabkan bertambahnya jumlah serta intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya meningkatkan kebutuhan akan air tetapi juga meningkatkan jumlah air buangan. Buangan-buangan inilah yang merupakan sumber-sumber pengotoran perairan. Pengaruh langsung ini dapat terjadi ketika kita minum (Slamet, 1994).

  1. B. Diare
    1. Pengertian Diare

Diare sesuai dengan definisi Hippocrates, maka diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair (Suharyono, 1985). Diare juga merupakan penyakit menular yang ditandai dengan buang air besar dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan (setengah padat), dan mengandung air pada tinja lebih banyak dari biasa (normal), 100-200 ml/tinja (Hendarwanto, 1994).

Berdasarkan buku pedoman pelaksanaan pemberantasan penyakit diare (Dinkes Sumsel, 2002), diare dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu :

  1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
  2. Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinja, akibat disentri adalah Anareksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.
  3. Daire Persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus-menerus. Akibat diare persiten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.
  4. Diare dengan masalah lain, yaitu diare yang mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
  5. 2. Penyebab Diare

Secara etimologi, penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar, yaitu : infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, imuno defisiensi, dan sebab-sebab lain. Yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan (Dinkes Sumsel, 2002).

Diare juga merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Akan tetapi, diare pada umumnya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli enteropatogenik (Slamet, 1994). Penyakit diare termasuk salah satu penyakit perut menular. Penyebabnya oleh karena sesuatu yang keluar dari tubuh penderita bersama feses, muntahan ataupun urine penderita dan menular dengan perantara makanan dan minuman serta air yang telah terkontaminasi oleh bibit penyakit (Entjang, 2000).

Diare yang berkelanjutan dapat disebut diare akut yang merupakan buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan konsisten tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu (Suharyono, 1985).

  1. 3. Gejala Diare

Orang yang menderita diare dapat dilihat dari gejala demam dan tinja berdarah. Darah kelihatan di tinja 2-4 hari sesudah adanya gejala diare. 90% ari penderita anak besar menunjukkan sakit perut. Muntah yang bersifat ringan terjadi pada 30% penderita. Kuman adalah sensitif terhadap eritromisin, gentamisin, dan nitrofurantoin (Karmali dan Fleming, 1979).

Seseorang yang terkena diare biasanya memiliki ciri, seperti badan terasa lemas, feses berbentuk lebih cair, dan perut terasa sakit (http://hidup-sehat.com/2009/05/ruang-lingkup-kesehatan.html). Selain itu, diare bersifat sering, volume banyak, berair, hijau atau kuning, dan kadang-kadang berlendir, terdapat juga gejala muntah dan panas mendadak berhubungan dengan diare karena virus (Suharyono, 1985).

Gejala demam dan tinja berdarah terdapat pada 90% penderita. Darah kelihatan di tinja 2-4 hari sesudah adanya gejala diare. 90% ari penderita anak besar menunjukkan sakit perut. Muntah yang bersifat ringan terjadi pada 30% penderita. Kuman adalah sensitif terhadap eritromisin, gentamisin, dan nitrofurantoin (Karmali dan Fleming, 1979).

Seseorang yang terkena diare biasanya memiliki ciri, seperti badan terasa lemas, feses berbentuk lebih cair, dan perut terasa sakit (http://hidup-sehat.com/2009/05/ruang-lingkup-kesehatan.html). Selain itu, diare bersifat sering, volume banyak, berair, hijau atau kuning, dan kadang-kadang berlendir, terdapat juga gejala muntah dan panas mendadak berhubungan dengan diare karena virus (Suharyono, 1985).

  1. 4. Dampak Diare

Kehilangan cairan akibat diare menyebab dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat. Dehidrasi akibat diare ini akan mengakibatkan tubuh terasa lemas, gelisah, dan mengantuk. Diare juga dapat menimbulkan dampak fisik, seperti mata sedikit cekung, mulut terlihat kering, berat badan menurun, dan denyut nadi lebih cepat (Suharyono, 1983).

  1. 5. Pencegahan Diare

Secara umum, untuk mencegah terjadinya penyakit bawaan air, dilakukan pengelolaan air minum dan air buangan secara terpadu karena semakin banyak penyediaan air bersih maka akan semakin bisa pencegahan terhadap berbagai macam penyakit bawaan air (Slamet, 1994).

Menurut buku pedoman pelaksanaan pemberantasan penyakit diare (Dinkes Sumsel, 2002), pencegahan terhadap penyakit diare yang efektif pada umumnya adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan ASI (jika terjadi pada bayi)
  2. Memperbaiki makanan pendamping ASI (pada anak-anak)
  3. Menggunakan air bersih yang cukup
  4. Mencuci tangan
  5. Menggunakan jamban
  6. Membuang tinja bayi dan orang dewasa dengan benar
  7. Memberikan imunisasi campak (pada anak-anak)

Ada cara yang mudah untuk mencegah terkena diare yaitu cuci tangan dengan sabun. Kebiasaan sederhana mencuci tangan dengan sabun, jika diterapkan secara  luas, akan menyelamatkan lebih dari satu satu juta orang (//http://kesehatan-pencegah/diare-sehat//).

  1. 6. Pengobatan Diare

Menurut WHO, 1978 dalam (Suharyono, 1987), jika seseorang telah terkena diare, maka secepatnya harus diberi pertolongan dengan :

  1. Memberikan secepatnya cairan yang mengandung garam (elektrolit) dan gula selama anak atau orang yang menderita diare sebanyak yang hilang melalui tinja ataupun muntah
  2. Jika terjadi pada bayi, maka air susu ibu dan makanan lain harus terus diberikan begitu anak mau makan dan jangan dihentikan
  3. Pemberian oralit untuk menggantikan cairan yang hilang
  4. Penggunaan obat-obatan lain sesuai dengan petunjuk dokter jika diperlukan

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Hasil
    1. Cakupan air bersih di Kota Kayuagung secara keseluruhan hanya 68,03% dan 30% dari cakupan air bersih ini tersedia oleh sungai dan  hampir 40% dari masyarakat Kota Kayuagung menjadikan sungai sebagai sarana penyediaan air bersih.
    2. Penyebab utama penyakit diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009 adalah tercemarnya sungai di Kota Kayuagung, dimana sungai ini merupakan sarana penyediaan air bersih bagi sebagian masyarakat Kota Kayuagung.
    3. Meningkatnya jumlah penderita diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009 disebabkan oleh keadaan sungai Kota Kayuagung yang pada bulan-bulan ini mengalami penyurutan. Hal ini terjadi karena pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009 di Kota Kayuagung terjadi musim kemarau.
    4. Pemerintah Kota Kayuagung berupaya untuk menanggulangi penyakit diare dengan memaksimalkan tenaga medis di RSUD Kayuagung.
  2. B. Pembahasan
    1. Kurangnya cakupan air bersih dapat ditanggulangi dengan melakukan pengolahan terhadap air yang sudah tercemar, seperti yang telah dijelaskan pada tinjauan teori di atas, yaitu dengan cara sederhana, cara penyaringan pasir, dan cara koagulasi agar dapat lebih memperbesar cakupan air bersih yang digunakan oleh masyarakat Kota Kayuagung. Beberapa cara ini dapat dipakai untuk memenuhi syarat fisik air bersih. Akan tetapi, untuk memenuhi sarat mikrobiologi air yang sudah tercemar, seperti air sungai Kota Kayuagung yang telah tercemar bakteri penyebab penyakit diare, yaitu bakteri Escherichia coli harus digunakan kaporit untuk membunuh bakteri penyebab penyakit diare tersebut.
    2. Terkait dengan penyebab utama penyakit diare di Kota Kayuagung adalah tercemarnya sarana penyediaan air bersih, dalam hal ini adalah sungai, maka hal ini dapat ditanggulangi dengan mengurangi zat pencemar yang masuk ke dalam sungai. Oleh karena salah satu zat pencemar yang masuk ke dalam sungai adalah limbah dari aktivitas manusia yang di buang ke sungai, maka masyarakat Kota Kayuagung harus memiliki kesadaran akan lingkungan dengan tidak lagi mencemari sungai Kota Kayuagung dengan berbagai zat pencemar, khususnya zat pencemar yang mengandung bakteri penyebab penyakit diare.
    3. Keadaan sungai Kota Kayuagung yang mengalami penyurutan pada musim kemarau ini sebaiknya ditanggapi serius oleh masyarakat pengguna sungai untuk terus memperhatikan kuantitas dan kualitas air yang mereka gunakan. Jika kuantitas air sudah tidak memungkinkan lagi untuk kualitas air yang baik maka masyarakat harus mengolah air tersebut sebelum mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena jika tidak dilakukan pengolahan yang dapat mengembalikan kualitas air tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak merugikan, khususnya bagi kesehatan tubuh manusia. Pengolahan ini seperti yang dijelaskan dalam tinjauan pustaka di atas, yaitu dengan cara sederhana, penyaringan pasir, dan cara koagulasi ataupun dengan penggunaan bahan kimia seperti kaporit ataupun tawas.
    4. Pemerintah Kota Kayuagung hanya mengutamakan pengobatan terhadap penderita tetapi kurang memperhatikan penyebab meningkatnya jumlah penderita diare yang mendominasi di Kota Kayuagung. Seperti yang telah dijelaskan di dalam latar belakang penulisan, salah satu penyebab dari tercemarnya sarana penyediaan air bersih di Kota Kayuagung adalah tinja dimana mengandung bakteri penyebab diare. Oleh karena itu,  sebaiknya pemerintah Kota Kayuagung menyediakan tempat khusus pembuangan tinja bagi masyarakat Kota Kayuagung agar mereka tidak lagi membuang tinja ke sungai. Selain itu, Pemerintah harus lebih menggalakkan kegiatan yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Kayuagung untuk mengurangi pencemaran terhadap sarana penyediaan air bersih yang dalam hal ini adalah sungai.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas di atas, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :

  1. Persentase cakupan air bersih di Kota Kayuagung dapat dikatakan sangat minim karena hanya mencapai angka 68,03%.
  2. Penyebab utama penyakit diare di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009 adalah tercemarnya sungai di Kota Kayuagung.
  3. Peningkatan jumlah penderita diare di Kota Kayuagung disebabkan oleh kurangnya penyediaan air bersih bagi masyarakat.
  4. Upaya penanggulangan penyakit diare dari Pemerintah Kota Kayuagung lebih menekankan pada pengobatan.
  5. B. Saran

Disarankan kepada pembaca pada umumnya dan masyarakat kota Kayuagung khususnya untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Masyarakat Kota Kayuagung sebaiknya melakukan pengolahan terhadap air yang tercemar untuk dapat memaksimalkan cakupan air bersih di Kota Kayuagung pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2009..
  2. Masyarakat Kota Kayuagung sebaiknya mengurangi pencemaran terhadap air sungai di Kota Kayuagung.
  3. Masyarakat Kota Kayuagung sebaiknya memaksimalkan penyediaan air bersih di Kota Kayuagung.
  4. Pemerintah Kota Kayuagung sebaiknya bisa menekan jumlah penderita penyakit diare di Kota Kayuagung dengan penanggulangan terhadap penyebab dari penyakit diare itu sendiri karena jika tidak dimulai dari penyebabnya maka akan semakin meningkatkan angka penderita.

Daftar Pustaka

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Pedoman teknis Pencegahan, Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan VI Diare dan Kecacingan, 2002

Entjang, Indan, Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT. Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2000

Effendi, Hefni, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Yogyakarta, 2003

Gabriel, J.F., Fisika Lingkungan, Hipokrates, Jakarta, 2000

Hendarwanto, Diare Akut karena Infeksi, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 1994

http://hidup-sehat.com/2009/05/ruang-lingkup-kesehatan.html//

http://id.wikipedia.org/wiki/mikrobiologi//

http://id.wikipedia.org/wiki/radioaktif//

http://kesehatan-pencegah/diare-sehat//

http://kesehatan-air/profil-OKI.provinsi-sumsel//

http://uripsantoso.wordpress.com//

Karmali, M.A., Fleming, P.C. Campylobacter Enteritis In Children, J. Pediat, 94 : 527, 1979

Miller, G.T., Living In The Environment Seventh Edition, Wadsworth Publishing Company.

California, 705 P, 1992

Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 Tentang Syarat – Syarat dan Pengawasan Kualitas Air

Ryadi, Al Slamet, Kesehatan Lingkungan, Karya Anda, Surabaya, 1984

Sudiyanto, Kesehatan Lingkungan, Rineka Cipta, Surabaya, 1975

Sanropie, Djasio, Sumini AR, dkk., Penyediaan Air Bersih, Departemen Keehatan RI, Jakarta, 1983

Suharyono, Diare Akut Klinik dan Laboratorik, Rineka Cipta, Jakarta, 1985

Slamet, Juli Soemirat, Kesehatan Lingkunga,. Gadjah Mada University Press, Bandung, 1994

Suriawiria, Unus, Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat, PT. Alumni, Bandung, 2005

Sumatera Ekspres, 10 September 2009

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: